Posted by : Unknown Rabu, 14 Januari 2015

        negara ini? Sudah lumayan baguskah? Atau semakin terpuruk? Lalu bagaimana dengan siswa-siswinya? Pintarkah? Atau malah sebaliknya? Bagaimana bila kita melihat saja hasil riset dari lembaga-lembaga tertentu untuk mengetahuinya?
Sebenarnya bagaimana kondisi pendidikan di

          Berbicara tentang situasi pendidikan sekarang ini, memang banyak yang bisa dijadikan tolak ukur mulai dari prestasinya, akademisnya, fasilitas dan infrastruktur, ketersediaan guru, jumlah sekolah, dan lain sebagainya. Pastinya, artikel ini sendiri tidak akan mampu memberikan pembahasan secara menyeluruh. Selain cakupannya yang terlalu luas, dibutuhkan juga riset dan penelitian yang mendalam untuk mengetahui bagaimana kondisi pendidikan Indonesia untuk sekarang ini secara komprehensif. Tetapi mungkin, kita akan mencoba mengupas sedikit dari sudut pandang akademis untuk memberikan sedikit refleksi dari kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Kira-kira satu tahun yang lalu, media nasional sempat dihebohkan dengan hasil riset berskala internasional yang bernama PISA - Program for International Student Assessment. PISA merupakan salah satu program kerjasama di beberapa negara yang tergabung dengan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) untuk melihat perbandingan kemampuan akademis siswa berumur 15 tahun di berbagai negara dalam bidang matematika, sains, dan membaca. 

           Riset yang dilakukan adalah dengan menguji kemampuan akademis siswa berumur 15-16 tahun dalam bentuk ujian tertulis, setiap 3 tahun sekali untuk kategori mata pelajaran matematika, sains, dan membaca. Dan riset terakhir dilakukan itu tahun 2012 dengan menyertakan 510.000 orang siswa dari 65 negara, termasuk Indonesia. Namun, baru dirilis awal pekan Desember tahun 2013.
Lalu, bagaimana hasil dari ujian tersebut? Ternyata, rata-rata nilai siswa-siswi Indonesia menempati urutan kedua paling bawah dari total 65 negara alias di urutan 64 dari 65 negara yang diujikan.
Tapi selain itu, ada satu hal lagi yang menarik dari riset ini. Jadi ternyata selain menguji kemampuan akademis, riset ini juga meneliti beberapa faktor lain, seperti tingkat kebahagiaan para pelajar.
Hal itu diukur berdasarkan hasil jawaban dari kuesioner yang pertanyaannya seputar sejauh mana siswa di Indonesia merasa nyaman berada dalam lingkungan sekolah. Dan PISA mengambil hipotesa seperti ini: “Semakin nyaman seorang pelajar berada dalam lingkungan pendidikan, maka semakin tinggi prestasi akademisnya”. Jika hipotesa ini benar, harusnya para pelajar Indonesia sangat tidak bahagia di lingkungan sekolah? Benarkah begitu?
Namun setelah diolah datanya, hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata Indonesia menempati urutan pertama (kali ini beneran dari atas) sebagai pelajar yang paling bahagia dengan mengalahkan 64 negara lainnya!

          Jadi, kesimpulannya bagimana? “Pelajar indonesia itu bodoh dan bahagia”. Tunggu dulu, tunggu dulu. Itu bukan saya pribadi yang mengatakannya. Itu adalah headline yang marak bermunculan di berbagai media pada tahun lalu. Pastinya kita pun agak miris membacanya.
Namun, sekali lagi, tunggu dulu. Memangnya kita akan menerima hasil dari survey dari lembaga internasional ini? Memangnya cara mereka mengambil sample siswa siswi di Indonesia ini sudah pasti tepat dan mewakili 80 juta populasi pelajar di Indonesia?
Kini, pertanyaannya sekarang adalah “Apakah tingkat kebahagiaan siswa berhubungan dengan prestasi akademis?” Hipotesa awal yang dibangun oleh PISA, yaitu: “Semakin tinggi tingkat kebahagiaan siswa di sekolahnya, maka semakin tinggi tingkat prestasi akademisnya.”
Dengan hasil yang didapat dari negara Indonesia, apakah itu berarti justru mengindikasikan, “Semakin rendah tingkat pemahaman akademis siswa, berarti semakin tinggi tingkat kebahagiaannya?”

             Apakah seperti itu? Mari kita lihat data lengkap dari tabel di bawah ini (tabel berwarna biru untuk indeks prestasi, sedangkan oranye untuk indeks kebahagiaan):

Bisa dilihat, selain Indonesia ada juga Korea yang termasuk kategori pintar namun tidak bahagia. Namun bila kita perhatiin baik-baik, ada negara yang berprestasi dan bahagia seperti Singapore misalnya, juga ada siswa yang tidak bahagia dan juga tidak berprestasi, seperti Qatar. Jadi, kita bisa melihat bahwa kedua variabel ini tidak memiliki hubungan sebab-akibat dan bisa dibilang, “Tingkat kebahagiaan tidak berhubungan dengan kemampuan akademis”

           Artinya, asumsi dasar dan hipotesa awal tidak terbukti. Budaya masyarakat di Korea Selatan yang memang cenderung individualis, hingga sepertinya perlu perjuangan ekstra buat mendapatkan temen dalam satu kelas. Berbeda dengan budaya di Indonesia, yang baru kenal 3-4 hari masuk kelas baru, bisa jadi sudah mengenal semua teman-teman sekelas. Jadi, dengan adanya faktor lain (budaya) tersebut, kita tidak bisa bilang bahwa semakin nyaman dengan lingkungan sekolah berarti semakin berprestasi.
Dan disini sebenernya point yang mau saya tunjukan adalah jangan pernah dengan mudah melihat hasil survey itu sebagai sesuatu yang pasti benar, walaupun survey tersebut dilakukan oleh lembaga internasional sekalipun. Kita harus bisa berpikir kritis untuk melihat segala hal dan jeli melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dan sejauh ini juga sudah banyak gerakan pendidikan yang patut diapresiasi dengan mencoba untuk menjadi solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia yang pelik ini. Jadi, saya pribadi berharap pendidikan Indonesia bisa lebih baik lagi, hari demi hari dan pelajar Indonesia semakin kritis untuk menanggapi hal-hal tertentu. Salam pendidikan!

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Playlist

Gudang Ilmu. Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Gudang Ilmu -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan